Halo, para pejuang sejati PlayStation 2! Ada yang lagi nostalgia nih? Atau mungkin ada yang baru pertama kali dengar nama game ini dan penasaran? Kali ini mimin mau ngajak kalian semua ngobrol tentang salah satu game yang—jujur aja—berhasil bikin mimin nangis, bingung, dan merenung selama berjam-jam. Sebuah game yang sering disebut sebagai “bukti bahwa video game adalah seni”.
Siapa di sini yang udah pernah main Shadow of the Colossus? Atau yang belum, pernah lihat gameplay-nya? Tenang, mimin bakal bedah tuntas game legendaris dari Team ICO ini, lengkap dengan cerita, gameplay, keunikan, plus review dari para pemain yang—jujur aja—punya pendalaman emosional yang dalam banget.
Siap-siap, karena perjalanan kita kali ini bakal membawa kalian ke dunia yang sunyi, luas, dan penuh dengan pertanyaan-pertanyaan moral yang nggak mudah dijawab.
Cerita Shadow of the Colossus
Ceritanya sederhana, tapi dalem banget.
Kita berperan sebagai Wander, seorang pemuda yang membawa tubuh seorang gadis bernama Mono ke sebuah kuil besar di tengah “Forbidden Land” (Tanah Terlarang). Mono adalah seseorang yang berarti bagi Wander, dan dia sudah meninggal—dikorbankan karena dianggap membawa kutukan.
Di kuil itu, Wander mendengar suara misterius yang berbicara dengan dua suara sekaligus (pria dan wanita). Suara itu adalah Dormin, entitas yang konon memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali orang mati.
Dormin setuju untuk membangkitkan Mono… dengan syarat: Wander harus menghancurkan 16 patung raksasa yang ada di kuil. Tapi untuk melakukannya, Wander harus membunuh 16 makhluk raksasa yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Terlarang—mereka adalah Colossi.
Dan di sinilah perjalanan Wander dimulai. Berbekal Ancient Sword dan busur panah, ditemani kuda setianya Agro, Wander menjelajahi daratan luas untuk mencari dan membunuh satu per satu raksasa itu.
Tapi ada yang janggal. Setiap kali Wander membunuh satu Colossus, ada bayangan gelap yang merasuki tubuhnya. Dan semakin banyak Colossus yang tewas, semakin jelas bahwa ada harga yang harus dibayar untuk kekuatan yang dia minta.
Bukan Sekadar “Aksi” Biasa
Game ini berjalan dalam siklus yang cukup sederhana:
- Mulai dari kuil pusat
- Cari petunjuk arah Colossus berikutnya dengan mengarahkan pedang ke sinar matahari
- Berkendara menggunakan Agro menuju lokasi (bisa makan waktu 5-15 menit perjalanan)
- Temukan Colossus, pelajari cara mengalahkannya
- Kalahkan Colossus, kembali ke kuil
- Ulangi 16 kali
Tapi jangan salah, meskipun sederhana secara struktur, setiap Colossus punya desain dan strategi yang berbeda. Nggak ada dua Colossus yang sama.
16 Raksasa dengan Karakter Berbeda
Setiap Colossus punya desain, habitat, dan cara bertarung yang unik. Dari yang ganas sampai yang… nyaris nggak melawan sama sekali. Ini bikin setiap pertarungan terasa berbeda.
Contoh beberapa Colossus yang ikonik:
| Colossus | Deskripsi |
| Valus (Colossus 1) | Manusia batu dengan palu raksasa. Yang pertama, jadi semacam tutorial. |
| Quadratus (Colossus 2) | Banteng raksasa berbulu. Kalian harus memanfaatkan Agro buat memanjatnya. |
| Gaius (Colossus 3) | Ksatria batu dengan pedang besar yang berdiri di atas panggung melingkar. |
| Avion (Colossus 5) | Burung raksasa yang terbang di atas danau. Kalian harus memanah sayapnya dulu baru bisa naik. |
| Hydrus (Colossus 7) | Belut listrik raksasa yang hidup di dalam air. Kalian harus menyelam dan memanfaatkan reruntuhan bawah air. |
| Phalanx (Colossus 13) | Makhluk terbang seperti ular raksasa. Ini adalah salah satu Colossus yang paling damai—dia nggak nyerang kalian sama sekali. Kalian cuma harus manjat dan tusuk titik lemahnya. |
| Malus (Colossus 16) | Colossus terakhir. Manusia raksasa yang berdiri di atas puncak gunung, menembakkan sinar listrik ke kalian dari kejauhan. |
Yang menarik beberapa Colossus, terutama yang terakhir, bikin kalian merasa bersalah. Mereka nggak mengganggu siapa pun, mereka cuma hidup di wilayah mereka sendiri. Tapi kalian harus membunuh mereka demi tujuan kalian.
Lebih dari Sekadar Kendaraan
Kuda Wander, Agro, adalah salah satu karakter terbaik di game ini. Bukan cuma buat transportasi, tapi Agro punya AI yang unik—dia bergerak seperti kuda beneran. Dia bisa takut, dia bisa menghindar dari bahaya, dia punya “kemauan sendiri”.
Buat beberapa Colossus, Agro adalah kunci kemenangan. Kalian harus bertarung sambil berkuda, memanah dari punggung kuda, atau memanfaatkan kecepatan Agro untuk mencapai titik tertentu.
Kenapa Game Ini Masih Dibicarakan Sampai Sekarang?
1. Minimalis Tapi Dalem
Shadow of the Colossus nggak kasih kalian exposition dump yang panjang. Ceritanya disampaikan lewat apa yang kalian lakuin, bukan apa yang kalian denger. Kalian merasakan beban Wander karena kalian sendiri yang membunuh Colossus demi Colossus. Kalian merasakan kesepian karena dunia yang luas dan kosong itu.
2. Moral Ambiguity yang Jarang Ada
Di kebanyakan game, kalian adalah pahlawan yang membunuh monster jahat. Tapi di sini? Colossus-nya nggak jahat. Mereka cuma makhluk besar yang hidup di wilayah mereka. Dan setiap kali kalian menusuk titik lemah mereka, ada perasaan… salah. Apalagi pas Colossus terakhir—Malus—yang terlihat lemah dan nggak nyerang kalian sampai kalian memprovokasi dia.
3. Agro adalah Kuda Terbaik dalam Sejarah Game
Spoiler ringan: ada satu momen di game ini di mana Agro mengorbankan dirinya buat kalian. Dan itu adalah salah satu momen paling emosional dalam sejarah game. Serius, mimin nggak mau spoiler lebih lanjut, tapi siapin tisu.
4. Secret Garden dan Post-Game Content
Setelah kalian menyelesaikan game, ada Time Attack Mode yang membuka berbagai bonus item: pedang yang lebih kuat, jubah yang bikin kalian nggak terlihat, kuda dengan warna berbeda, bahkan akses ke Secret Garden di atas kuil yang cuma bisa dicapai dengan stamina maksimal.
Gimana menurut kalian, bro and sis? Udah pernah main Shadow of the Colossus? Atau masih penasaran dan mau coba?.
Dan ingat: jangan lupa say hello ke Agro dari mimin, ya. Dia kuda terbaik yang pernah ada.
Sampai jumpa di artikel nostalgia berikutnya!